Lihatlah sekitarmu, dengan begitu kau akan dapat ilmu. Ilmu kehidupan untuk dirimu, yang akan kau lalui bersama waktu

Tuesday, 30 September 2014

Sahabat-sahabat kecil


Bersama siswa-siswi SDN Sarangan 3
Embun udara pagi kala itu menyapaku dengan dingin dan sejuknya. Menemaniku menuju salah satu istana pendidikan yang ada di daerah Sarangan, Kab. Magetan. Seketika aku menjauh dari polusi udara yang senantiasa aku hirup yang hampir dua tahun terakhir ini  aku rasakan di wilayah ibu kota Jawa Timur. Jalanan rindang membuatku semakin menikmati indahnya alam ciptaanNYA. Gunung Lawu yang ku lihat dari kejauhan semakin membuatku bangga berada di alam yang sungguh luar biasa indahnya. Aku tidak sendiri, tapi aku bersama “mereka”, “mereka” yang hebat, “mereka” yang mempunyai kepedulian dan tujuan yang sama. “mereka” yang bagiku adalah orang-orang hebat dengan hati yang begitu mulia.
Tiba waktu “kami” sampai di istana itu, serentak “kami” melihat sahabat-sahabat kecil berbaris menghampiri “kami” dan mengucapkan salam. Dan pada saat itu juga aku teringat sahabat-sahabat kecil diluaran sana yang masih banyak membutuhkan perhatian. Rentang waktu memang terkadang membuat seseorang terlupa akan sahabat-sahabat kecil yang masih membutuhkan perhatian yang lebih. Keegoisan membuat seseorang lupa akan artinya bersyukur, bersyukur atas segala sesuatu yang diberikan olehNYA.  Ketika “kami” beranjak mendekati mereka, pada saat itulah kami mulai “mengerti, memahami, dan menyesuaikan”. Kesempatan berada di dunia sahabat-sahabat kecil telah ada di depan mata “kami” kembali. Seketika “kami” bermain bersama, belajar bersama, dan tertawa bersama.
Istana yang jauh dari pusat pemerintahan daerah, istana yang bagiku sangat dipenuhi ladang ilmu, istana yang sebagai wadah sahabat-sahabat kecil melalui kehidupannya untuk meraih cita-cita. Kala pagi dengan kilauan sinar matahari disertai senyuman sahabat-sahabat kecil, yang “kami” harap cita-cita mereka tidaklah mungil. Disini “kami” siap bersilaturahmi , mengembangkan daerah, dan membangun relasi. Langkah yang semoga menjadi panutan, Ujar yang semoga dapat menjadi pengetahuan, dan pengalaman yang semoga dapat menjadi inspirasi. Tidak hanya orang kaya yang bisa berbagi, karena bagiku kaya secara materi bukanlah pondasi dari berbagi, melainkan tujuan dari berbagi untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan sesama adalah realita manusia sebagai makhluk sosial.
SDN Sarangan 3, disinilah istana yang kami datangi, penuh dengan canda tawa sahabat-sahabat kecil dan Pahlawan tanpa tanda jasa yang menyambut “kami” dengan sangat baik dalam  acara yang serentak berlangsung di 27 daerah pada Senin, 29 September 2014 lalu.  Disinilah “kami” berkontribusi, disinilah “kami” siap terinspirasi dan yang semoga menginspirasi. Relawan pengajar yang semangatnya luar biasa menambah semangatku untuk tetap melanjutkan acara ini. Tidak hanya pemahaman profesi para profesional yang diberikan kepada sahabat-sahabat kecil, namun permainan-permainan/ice breaking untuk sahabat-sahabat kecil juga dilakukan pada hari itu. Tawa mereka tak akan pernah aku lupa. 
Tiba waktu acara puncak di hari itu, penulisan cita-cita. Seperti di awal “kami” harap cita-cita mereka tidaklah mungil. Dan ketika cita-cita mereka tertulis di lebar kertas yang “kami” berikan, syukurnya mereka mempunyai cita-cita yang sangat mulia pula, cita-cita sebagai Dokter, Tentara, Guru, dll. Dan pada saat itu “kami” turut mendoakan semoga cita-cita mereka dapat diraih. Aamiin...
Kelas Inspirasi Magetan telah banyak mengajarkan aku banyak hal, tidak hanya mengelola manusia tapi juga mengelola hati. Disini aku bertemu dengan orang-orang yang hebat, meskipun berbeda-beda karakter namun mereka sama-sama mempunyai hati nurani yang begitu mulia.
Laskar Pelangi, lagu yang “kami” putar ketika “kami” mengakhiri kegiatan pada hari itu. Rasanya hari itu berjalan dengan cepat. Jauh di lubuk hati “kami”, “kami” masih ingin disini, bermain bersama, belajar bersama, dan tertawa bersama. Namun apa daya, kesempatan itu telah sampai pada batas waktunya.
Ya Allah, jika Engkau ijinkan aku berdoa lagi saat ini tolong berikanlah ridho dan kemudahan bagiku, bagi “kami” dan mereka untuk meraih apa yang kami impikan. Aamiin..
Tiba waktu aku harus kembali ke ibu kota Jawa Timur untuk menimba ilmu, aku berharap aku  bisa bertemu dengan mereka kembali, baik Fasil, Relawan Pengajar, FG dan VG. Sungguh ketulusan yang mereka beri tidak dapat dibeli, tidak dapat dirupiahkan. Dan akhir kata saya percaya ketulusan itu akan tetap menular apapun hasilnya !
Salam Wooosshhh, Salam Inspirasi

Rizky Amalia Ditasari 

Thursday, 24 April 2014

Mereka juga butuh makan


Terik sinar matahari menemaniku sepanjang perjalananku dari kampus hingga pulang ke kediamanku. Sambil ku perhatikan orang-orang di sekitarku, yang semoga seperti biasanya aku dapat menemukan arti perjuangan hidup dalam kehidupan ini. Belajar dari kehidupan, ya inilah yang paling aku sukai, karena dengan memperhatikan sekitarku aku dapat melihat langsung kehidupan apa dan bagaimana yang terjadi di sekitarku. Senantiasa bersyukur, itulah yang dapatkan ketika belajar kehidupan seperti ini. Hidup sebagai manusia memang tak pernah ada puasnya jika menuruti apa yang di inginkan, namun dengan kita menyadari bahwa kebutuhan lebih penting daripada keinginan, maka kita akan lebih dekat dengan nikmatnya bersyukur.
Ketika aku melewati pasar menuju kediamanku, aku melihat segerombolan Satpol PP yang sedang membongkar warung-warung dan mengangkut gerobak-gerobak  yang ada di pinggir jalan di sekitar pasar tersebut. Aku melihat sekelompok orang pula yang melihat aksi petugas kota itu menjalankan tugasnya dengan wajah yang terlihat prihatin dan seolah pasrah ketika gerobak-gerobak, kayu-kayu sebagai bangunan yang menjadi media mereka untuk mencari sesuap nasi tersebut. 
Satpol PP ! Ketika aku melihat aksimu seperti ini, aku sempat mempertanyakan hati nuranimu, namun aku juga tahu kau sedang menjalankan kewajibanmu sebagai pramong praja di tanah ibu kota ini. Sempat berfikir pula, apakah ini adalah satu-satunya cara untuk mentertibkan dan memperindah ibukota ini dengan cara mengabaikan hak mereka untuk hidup, mereka butuh makan, mereka butuh bertahan hidup, jika mereka harus menebus gerobak tersebut bukankah itu akan memakai uang yang sebenarnya mereka gunakan untuk makan. Mungkin aku terlalu melihat dengan hati keadaan seperti ini, tapi ya inilah aku. Aku tak bisa melihat orang lain yang sesungguhnya mempunyai hak untuk hidup harus berjuang seperti itu. Bukankah kita adalah manusia yang seharusnya bisa saling tolong menolong. Apa mungkin tolong menolong hanya sebagai pelajaran anak SD di tahun 2000an ?
Kejadian tersebut membuatku semakin menyadari bahwa masih banyak orang-orang yang jauh dari keberuntungan dibanding denganku, kejadian tersebut mengajarkan aku bahwa perjuangan hidup ini akan terus kita lalui, kejadian tersebut juga membuatku untuk lebih semangat belajar agar aku bisa menjadi salah satu pembuat kebijakan sosial yang dapat menertibkan kondisi seperti itu dengan tetap memperjuangkan hak mereka untuk hidup. Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang di selimuti hati nurani, bukankah hidup ini akan lebih indah jika setiap orang mau berjuang untuk saling tolong menolong dengan hati ? mari berjuang dengan ketulusan hati.


Rizky Amalia Ditasari